Minggu, 23 Januari 2011

Kotoran Kambing PE Belum Dimanfaatkan Secara Optimal

Peternak membuat pupuk organik dari kotoran kambing PE Kaligesing. 
Foto: Jarot Sarwosambodo
PURWOREJO (KRjogja.com) - Kotoran kambing Peranakan Etawa (PE) Rumpun Kaligesing belum dimanfaatkan secara optimal untuk pembuatan pupuk organik. Potensi kotoran kambing yang dihasilkan ternak milik warga Purworejo mencapai puluhan ton setiap hari.
 
Seekor kambing bisa mengeluarkan kotoran hingga sembilan ons setiap hari, sementara di Purworejo ada sedikitnya 60 ribu ekor ternak. Diperkirakan, tidak kurang 50 ton kotoran kambing yang dihasilkan.

Kini, sebagian besar peternak kambing masih menjual kotoran tersebut apa adanya, atau membuangnya ke kebun sebagai pupuk kandang. "Kebanyakan peternak menggunakan kotoran yang dihasilkan untuk memupuk tanaman keras di kebun milik mereka. Mereka membuang kotoran tersebut tanpa diolah," ujar Sutono, Ketua Gapoktan Anjani Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, kepada KRjogja.com, Senin (17/1).
 
Peternak juga menjual kotoran kambing tersebut dengan harga Rp 5 ribu setiap karung berisi sekitar 30 kilogram. Belum dioptimalkannya pengolahan kotoran kambing secara lantaran sebagian peternak belum mengetahui potensi nilai tambah pengolahan kotoran itu. Peternak masih terfokus membudidayakan dan menjual anakannya lantaran tingginya harga kambing PE Rumpun Kaligesing.

"Jika saja diolah menjadi kompos, nilai jualnya akan lebih tinggi. Kini, pupuk kompos dijual di pasaran dengan harga sekitar Rp 15 ribu setiap lima kilogram," ungkapnya.
 
Gapoktan Anjani kini tengah mencoba mengolah kotoran kambing menjadi kompos. Pengolahan tersebut menggunakan peralatan bantuan dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gapoktan mulai membuat pupuk dengan bahan 2,5 ton kotoran kambing.
 
Pengolahan tersebut dilakukan dengan sedikit penggunaan bahan kimia. "Unsur NPK dalam pupuk kompos dibuat dari bahan tanaman klereside, sedangkan SP36 dari hujauan sisa pakan ternak, serta menggunakan bakteri pengurai," imbuhnya.
 
Meski kini belum menghasilkan produk, namun sejumlah calon konsumen berminat ingin memanfaatkan pupuk buatan peternak. "Sudah ada yang minta dikirim pupuk organik hingga beberapa ton, padahal komposnya belum jadi," tuturnya.(R-1)

Sumber: http//www.krjogja.com/
link ke sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar